Wednesday, November 4, 2009

SYUKUR ATAS KEMAKSIATAN

Suatu hari aku kedatangan 2 orang tamu. Keduanya mengaku sudah lama berbuat maksiat dalam hidupnya. Selain menyesali kemaksiatan yang telah mereka lakukan, mereka tak lupa pula melontarkan pujian kepadaku karena selama ini dikenal cukup shaleh (menurut mereka). Agar posisi menjadi draw, maka akupun membalas pujian dengan pujian pula. Kubilang bahwa mereka harusnya bersyukur karena mereka pernah mengalami masa maksiat. Kita ambil sebuah contoh : Seseorang yang sejak kecil hingga sekarang hidup berkecukupan, tentu ketika terjadi peningkatan kekayaan akan tidak terlalu merasa gembira mengikuti "perkembangan" baru itu, yakni perubahan dari miskin menjadi kaya. Berbeda dengan seseorang yang terbiasa hidup miskin sebelumnya, ketika fase berubah menjadi kaya maka dia akan merasa sensasi yang betul-betul signifikan atas perubahan itu.

Begitu pula dengan seseorang yang sejak kecil hampir tidak pernah berbuat maksiat, ketika keshalehannya meningkat maka perubahannya tentu saja tidak akan dia rasakan. Berbeda dengan orang yang sering berbuat maksiat sejak kecil, ketika saat ini dia bertobat dan masuk dalam kondisi baru sebuah keshalehan; maka sensasi yang muncul akan begitu luar biasa. Makanya kubilang lagi, bahwa kalian patut bersyukur pernah merasakan maksiat tapi sudah bisa membaliknya menjadi fase keshalehan maka fase itu betul-betul luar biasa. Kalimat istighfar yang dilantunkannya akan lebih membahana di dalam sanubarinya. Gelegarnya jauh lebih "terdengar" dibanding gelegarku. Rasa khusyu dan tawadlu akan lebih menyelimuti mereka dibanding dengan aku. Kemudian akupun melanjutkan pujian bahwa istighfar yang mereka sampaikan kepada Allah akan lebih bermakna didengar oleh-Nya dibanding istighfarku.

0 comments:

Post a Comment