Setiap manusia tanpa kecuali selalu mempunyai berbagai macam hajat atau kebutuhan dalam hidup. Seringkali kita tanpa sadar melupakan hakikat yang sebenarnya dari tercapainya hajat itu. Kita terasa sangat ketergantungan dengan makhluk yang ada di sekeliling kita untuk terpenuhinya hajat tersebut. Kita sangat berharap bahwa makhluk yang kita datangi itu memenuhi permintaan kita. Padahal, seandainya Allah tidak menghendaki, maka manusia (makhluk) yang kita datangi tersebut tidak akan tergerak hatinya untuk memenuhi hajat kita tersebut. Maka oleh karena itu wahai saudaraku... Ingatlah bahwa jangan sekali-kali melupakan keberadaan peranan Allah dalam perkara ini.
Allah berfirman dalam hadits Qudsi :
"Demi kemuliaan-Ku dan kebesaran-Ku, kemurahan-Ku dan ketinggian kedudukan-Ku di atas Arsy. Aku akan mematahkan harapan orang yang mengharap kepada selain-Ku dengan kekecewaan. Aku akan kenakan pakaian kehinaan di mata orang itu dan Aku akan singkirkan ia dari dekat-Ku serta Aku putuskan dari hubungan-Ku. Mengapa ia mengharap selain-Ku dalam kesukaran, padahal kesukaran itu di tangan-Ku dan Aku dapat menyingkirkannya. Mengapa pula makhluk-Ku mengetuk pintu yang lain padahal kunci pintu-pintu itu tertutup dan hanya pintu-Ku yang terbuka bagi siapa yang berdo'a minta kepada-Ku. Siapakah yang pernah mengharapkan Aku untuk menghalau kesukarannya lalu Aku kecewakan ? Siapakah yang pernah mengharapkan Aku karena besar dosanya' lalu Aku putuskan harapannya ?
Aku telah mengadakan hubungan yang langsung antara-Ku dengan angan-angan dan harapan semua makhluk-Ku, maka mengapakah engkau bersandar kepada selain-Ku ? Dan Aku telah menyediakan semua harapan hamba-Ku, tetapi hamba-Ku tidak puas dengan perlindungan-Ku. Aku telah memenuhi langit-Ku dengan makhluk yang tidak jemu bertasbih kepada-Ku yang terdiri dari para malaikat dan Aku perintahkan mereka agar tidak menutup pintu antara-Ku dengan para hamba-Ku tetapi mereka tidak percaya kepada sabda-Ku. Tidakkah mereka mengetahui bahwa siapa yang ditimpa bencana yang Aku turunkan, tiada yang dapat menyingkirkannya selain Aku, maka mengapakah Aku melihat segala angan-angan harapannya selalu berpaling daripada-Ku... mengapakah ia tertipu oleh lain-Ku ?
Aku telah memberi kepadanya dengan kemurahan-Ku apa-apa yang tidak ia minta, kemudian Aku yang mencabut dari padanya lalu ia tidak minta kepada-Ku untuk mengembalikannya dan minta kepada selain-Ku. Apakah Aku yang memberi sebelum diminta, kemudian jika diminta lalu tidak memberi kepada si peminta ? Apakah aku kikir sehingga dianggap kikir oleh hamba-Ku ? Tidakkah dunia dan akhirat itu semua milik-Ku ? Tidakkah semua rahmat dan Kurnia itu ditangan-Ku ? Tidakkah kemurahan itu sifat-Ku ? Tidakkah hanya Aku tempat semua harapan ? Maka siapakah yang dapat memutuskannya daripada-Ku ?
Dan apakah lagi yang diharapkan oleh orang-orang yang berharap, andaikata Aku berkata : mintalah kepada-Ku ! Kemudian Aku memberi makhluk-Ku pikiran dan Aku memberikan semuanya tanpa mengurangi kekayaan-Ku meskipun sekecil debu. Maka bagaimanakah akan berkurang kekayaan-Ku yang lengkap, sedang Aku yang mengawasinya ? Alangkah celakanya orang yang putus dari rahmat-Ku, alangkah kecewa orang yang maksiat kepada-Ku dan tidak memperhatikan-Ku dan tetap melakukan yang kularang serta tiada malu kepada-Ku."
Betapa Allah seakan-akan mengeluh kepada kita padahal kita cuma sebatas makhluk. Sekali lagi... kita ini adalah makhluk yang artinya sesuatu yang diciptakan, sedangkan Allah adalah Khaliq atau dzat yang menciptakan. Sungguh sangat luar biasa Firman Allah dalam hadits qudsi tersebut yang melecut dan mencambuk pikiran dan hati kita. Perhatikan kata demi kata... Resapilah... Pejamkan mata sambil pikirkan dengan segenap kekuatan perasaan kita. Betapa kita telah sangat berdosa kepada Allah karena "melupakan-Nya". Kita bagaikan kacang lupa kulit. Ya... Allah, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku dengan aniaya yang tidak terperi karena melupakan kehadiran-Mu. Tiada yang dapat mengampuni segala dosaku melainkan hanya Engkau. Oleh karena itu, ampunilah ya Allah akan segala dosa-dosaku dengan ampunan langsung dari sisi-Mu. Kasihanilah aku karena sesungguhnya Engkau yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Rasul berpesan kepada keponakannya Ibnu Abbas, “Apabila kamu meminta maka mintalah kepada Allah. Dan apabila kamu meminta pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi).
Allah berfirman dalam hadits Qudsi :
"Demi kemuliaan-Ku dan kebesaran-Ku, kemurahan-Ku dan ketinggian kedudukan-Ku di atas Arsy. Aku akan mematahkan harapan orang yang mengharap kepada selain-Ku dengan kekecewaan. Aku akan kenakan pakaian kehinaan di mata orang itu dan Aku akan singkirkan ia dari dekat-Ku serta Aku putuskan dari hubungan-Ku. Mengapa ia mengharap selain-Ku dalam kesukaran, padahal kesukaran itu di tangan-Ku dan Aku dapat menyingkirkannya. Mengapa pula makhluk-Ku mengetuk pintu yang lain padahal kunci pintu-pintu itu tertutup dan hanya pintu-Ku yang terbuka bagi siapa yang berdo'a minta kepada-Ku. Siapakah yang pernah mengharapkan Aku untuk menghalau kesukarannya lalu Aku kecewakan ? Siapakah yang pernah mengharapkan Aku karena besar dosanya' lalu Aku putuskan harapannya ?
Aku telah mengadakan hubungan yang langsung antara-Ku dengan angan-angan dan harapan semua makhluk-Ku, maka mengapakah engkau bersandar kepada selain-Ku ? Dan Aku telah menyediakan semua harapan hamba-Ku, tetapi hamba-Ku tidak puas dengan perlindungan-Ku. Aku telah memenuhi langit-Ku dengan makhluk yang tidak jemu bertasbih kepada-Ku yang terdiri dari para malaikat dan Aku perintahkan mereka agar tidak menutup pintu antara-Ku dengan para hamba-Ku tetapi mereka tidak percaya kepada sabda-Ku. Tidakkah mereka mengetahui bahwa siapa yang ditimpa bencana yang Aku turunkan, tiada yang dapat menyingkirkannya selain Aku, maka mengapakah Aku melihat segala angan-angan harapannya selalu berpaling daripada-Ku... mengapakah ia tertipu oleh lain-Ku ?
Aku telah memberi kepadanya dengan kemurahan-Ku apa-apa yang tidak ia minta, kemudian Aku yang mencabut dari padanya lalu ia tidak minta kepada-Ku untuk mengembalikannya dan minta kepada selain-Ku. Apakah Aku yang memberi sebelum diminta, kemudian jika diminta lalu tidak memberi kepada si peminta ? Apakah aku kikir sehingga dianggap kikir oleh hamba-Ku ? Tidakkah dunia dan akhirat itu semua milik-Ku ? Tidakkah semua rahmat dan Kurnia itu ditangan-Ku ? Tidakkah kemurahan itu sifat-Ku ? Tidakkah hanya Aku tempat semua harapan ? Maka siapakah yang dapat memutuskannya daripada-Ku ?
Dan apakah lagi yang diharapkan oleh orang-orang yang berharap, andaikata Aku berkata : mintalah kepada-Ku ! Kemudian Aku memberi makhluk-Ku pikiran dan Aku memberikan semuanya tanpa mengurangi kekayaan-Ku meskipun sekecil debu. Maka bagaimanakah akan berkurang kekayaan-Ku yang lengkap, sedang Aku yang mengawasinya ? Alangkah celakanya orang yang putus dari rahmat-Ku, alangkah kecewa orang yang maksiat kepada-Ku dan tidak memperhatikan-Ku dan tetap melakukan yang kularang serta tiada malu kepada-Ku."
Betapa Allah seakan-akan mengeluh kepada kita padahal kita cuma sebatas makhluk. Sekali lagi... kita ini adalah makhluk yang artinya sesuatu yang diciptakan, sedangkan Allah adalah Khaliq atau dzat yang menciptakan. Sungguh sangat luar biasa Firman Allah dalam hadits qudsi tersebut yang melecut dan mencambuk pikiran dan hati kita. Perhatikan kata demi kata... Resapilah... Pejamkan mata sambil pikirkan dengan segenap kekuatan perasaan kita. Betapa kita telah sangat berdosa kepada Allah karena "melupakan-Nya". Kita bagaikan kacang lupa kulit. Ya... Allah, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku dengan aniaya yang tidak terperi karena melupakan kehadiran-Mu. Tiada yang dapat mengampuni segala dosaku melainkan hanya Engkau. Oleh karena itu, ampunilah ya Allah akan segala dosa-dosaku dengan ampunan langsung dari sisi-Mu. Kasihanilah aku karena sesungguhnya Engkau yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Rasul berpesan kepada keponakannya Ibnu Abbas, “Apabila kamu meminta maka mintalah kepada Allah. Dan apabila kamu meminta pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi).



0 comments:
Post a Comment