Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa)-mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu. Ketahuilah! Allah Ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri dihadapan Rabb Al-’Alamin.
Kutipan khutbah Nabi Muhammad yang menggetarkan jiwaku yang selalu merasa punya banyak dosa dan khilaf di dunia ini. Dalam hadist Rasullullah bersabda: "Demi Allah Aku beristighfar dan bertaubat kepada-NYA seratus kali dalam sehari." HR. Bukhari.
Kalau saja nabi kita yang dosanya pasti diampuni Allah saja mohon ampun 100x sehari, mengapa aku memohon ampun lebih sedikit jumlahnya dibanding nabi ? Padahal... khilaf dan dosaku begitu tinggi mencapai langit. Padahal... khilaf dan dosaku begitu banyak tak sanggup digit yang ada di dunia bisa menghitungnya. Padahal... khilaf dan dosaku begitu luas tak sebanding dengan luasnya bumi dan langit.
Kemudian... rasanya tidaklah layak jika aku cuma bisa melantunkan kalimat istighfar itu dengan mengacu pada jumlahnya saja yang melebihi jumlah yang dibaca oleh nabi. Terasa munafik jika lidahku mengucap : Allahumma inni zhalamtu nafsi zhulman katsiran kabiran walaa yaghfiruzh zhunuba illa anta faghfirli maghfiratan min indika warhamni innaka antal ghafururrahim (Ya Allah, sesungguhnya kami berbuat aniaya kepada diri kami sendiri dengan aniaya yang banyak dan besar dan tiada yang sanggup mengampuni melainkan Engkau maka ampunilah kami langsung dari pada-Mu serta kasihanilah kami sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang) sementara hatiku lalai.
Aku ingin.. setiap 1 kali aku mengucapkan istighfar, maka hatiku menuruti dengan pengertian dan dengan penuh rasa takut dan harap. Rasa tak berguna ucapan kalimat itu jika hatiku tidak mengiringinya dengan getaran dan rasa.
Kalau saja nabi kita yang dosanya pasti diampuni Allah saja mohon ampun 100x sehari, mengapa aku memohon ampun lebih sedikit jumlahnya dibanding nabi ? Padahal... khilaf dan dosaku begitu tinggi mencapai langit. Padahal... khilaf dan dosaku begitu banyak tak sanggup digit yang ada di dunia bisa menghitungnya. Padahal... khilaf dan dosaku begitu luas tak sebanding dengan luasnya bumi dan langit.
Kemudian... rasanya tidaklah layak jika aku cuma bisa melantunkan kalimat istighfar itu dengan mengacu pada jumlahnya saja yang melebihi jumlah yang dibaca oleh nabi. Terasa munafik jika lidahku mengucap : Allahumma inni zhalamtu nafsi zhulman katsiran kabiran walaa yaghfiruzh zhunuba illa anta faghfirli maghfiratan min indika warhamni innaka antal ghafururrahim (Ya Allah, sesungguhnya kami berbuat aniaya kepada diri kami sendiri dengan aniaya yang banyak dan besar dan tiada yang sanggup mengampuni melainkan Engkau maka ampunilah kami langsung dari pada-Mu serta kasihanilah kami sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang) sementara hatiku lalai.
Aku ingin.. setiap 1 kali aku mengucapkan istighfar, maka hatiku menuruti dengan pengertian dan dengan penuh rasa takut dan harap. Rasa tak berguna ucapan kalimat itu jika hatiku tidak mengiringinya dengan getaran dan rasa.



0 comments:
Post a Comment